BerandaKamarGaleriLokasiPanduanReservasiEnglish →

Galungan dan Kuningan di Bali, dijelaskan untuk wisatawan

Oleh Villa Soleil · Terbit September 2026 · 8 menit baca

Deretan penjor bambu melengkung di sepanjang jalan desa Bali saat Galungan, dengan keluarga berbusana adat berjalan di bawahnya
Penjor dipasang sehari sebelum Galungan dan tetap berdiri setidaknya sampai Kuningan, sepuluh hari kemudian.
Jawaban singkat

Jawaban singkat: Galungan menandai kemenangan dharma atas adharma dan turunnya leluhur ke rumah keluarga; Kuningan, sepuluh hari kemudian, menandai kepulangan mereka. Keduanya mengikuti kalender Pawukon 210 hari, jadi jatuh sekali atau dua kali setahun — cek kalender resmi Bali untuk tanggalnya. Bali tidak tutup: hotel, penerbangan, dan Nusa Dua berjalan normal, tetapi toko keluarga tutup, sopir sulit dicari di pagi harinya, dan pura mengutamakan upacara. Kenakan kamen dan selendang, berdiri di belakang orang yang sembahyang, dan jangan pernah menyentuh penjor.

Setiap 210 hari sekali, wajah Bali berubah dalam semalam. Batang bambu setinggi rumah melengkung di sepanjang jalan, sanggah keluarga penuh sesajen segar, dan staf yang biasanya menyapa Anda saat sarapan sedang sembahyang di pura desanya dengan busana adat putih-kuning. Itulah Galungan, disusul Kuningan sepuluh hari kemudian — hari raya terbesar umat Hindu Bali yang datang sekali atau dua kali setahun. Kalau tanggal menginap Anda di Villa Soleil kebetulan bertepatan, anggap itu keberuntungan, bukan gangguan. Panduan ini menjelaskan apa yang sedang Anda saksikan, apa saja yang berubah bagi tamu, dan bagaimana ikut menyaksikan dengan sopan.

Makna Galungan dan Kuningan

Galungan merayakan kemenangan dharma (kebajikan, keteraturan) atas adharma (kekacauan). Dalam keyakinan Hindu Bali, hari ini juga menjadi saat para leluhur turun mengunjungi rumah keturunannya. Mereka disambut dengan sesajen, doa, dan hidangan terbaik yang bisa disiapkan keluarga. Kuningan, sepuluh hari kemudian, menandai kembalinya para leluhur ke alam niskala. Karena itu, inti perayaannya bukan tontonan publik, melainkan reuni keluarga besar dengan mereka yang sudah tiada — dan itulah sebabnya momen paling menyentuh justru terjadi di dalam pekarangan rumah dan pura desa, bukan di kawasan wisata.

Nama Kuningan berkaitan dengan warna kuning: keluarga menyiapkan nasi kuning sebagai lambang kemakmuran dan rasa syukur. Persembahyangan Kuningan lazimnya selesai sebelum tengah hari, karena berkah diyakini hanya hadir hingga matahari mencapai puncaknya. Datang ke pura pukul dua siang di hari Kuningan, upacaranya sudah usai dan keluarga sudah duduk makan siang.

Siklus 210 hari, tanpa perlu kalkulator

Galungan tidak mengikuti tahun Masehi, melainkan kalender Pawukon: siklus 210 hari yang terdiri dari 30 wuku, masing-masing tujuh hari. Galungan selalu jatuh pada hari Rabu di wuku kesebelas, Buda Kliwon Dungulan; Kuningan selalu pada hari Sabtu di wuku berikutnya, Saniscara Kliwon Kuningan. Karena 210 hari lebih pendek daripada setahun Masehi, pasangan hari raya ini datang sekitar 1,7 kali per tahun — ada tahun yang hanya sekali, ada yang dua kali.

Siklus terakhir jatuh pada 17 dan 27 Juni 2026. Kalender Bali yang beredar mencantumkan dua Galungan berikutnya pada Rabu 13 Januari 2027 (Kuningan Sabtu 23 Januari) dan Rabu 11 Agustus 2027 (Kuningan Sabtu 21 Agustus). Namun kalender dicetak oleh beberapa penerbit dan sesekali ada perbedaan rincian, jadi cek kalender resmi Bali atau tanyakan kepada host kami sebelum menyusun rencana. Kalender festival Bali kami membahas posisi Galungan di antara Nyepi dan hari raya lain, baik yang tanggalnya tetap maupun yang bergeser.

Penjor: bambu yang mengubah jalan menjadi lorong upacara

Penjor adalah tanda paling kasatmata bahwa Galungan sudah dekat. Setiap rumah tangga menancapkan bambu tinggi di sisi pintu gerbang, ujungnya melengkung oleh beban janur, padi, buah, jajan, dan hiasan anyaman. Lengkungan itu disengaja: ia melambangkan Gunung Agung, gunung tersuci di Bali, dan aneka hasil bumi yang digantung adalah ungkapan syukur atas kelimpahan alam. Di kakinya ada sanggah penjor kecil, tempat sesajen diletakkan setiap hari selama periode ini.

Penjor dipasang pada Penampahan Galungan, sehari sebelum Galungan, dan tetap berdiri setidaknya sampai Kuningan; di banyak desa, penjor baru dicabut beberapa minggu kemudian saat rangkaian upacara resmi berakhir. Biayanya beragam, dari sekitar Rp150.000 untuk penjor sederhana buatan sendiri hingga jutaan rupiah untuk penjor megah pesanan yang Anda lihat di depan hotel dan di jalan utama Ubud. Ingat itu saat tergoda memegangnya demi foto: silakan lihat dan potret dari jalan, tetapi jangan bersandar atau menyentuhnya.

Hari demi hari: rangkaian perayaan

Galungan adalah rangkaian, bukan satu hari saja. Berikut alurnya, beserta apa yang biasanya dirasakan tamu yang menginap di Nusa Dua.

HariKapanYang dilakukan keluarga BaliYang Anda rasakan
PenyekebanMinggu, 3 hari sebelumPisang diperam dalam tempayan untuk sesajenPasar ramai, belum banyak perubahan
PenyajaanSenin, 2 hari sebelumMembuat jaja, kue beras warna-warni untuk bantenAroma manis dari dapur-dapur desa
Penampahan GalunganSelasa, sehari sebelumMenyembelih babi, membuat lawar, memasang penjorPenjor muncul serentak; staf mungkin pulang lebih awal
GalunganRabuSembahyang sejak subuh, silaturahmi, makan bersamaToko lokal tutup, jalan sepi pagi hari, padat dekat pura
Manis (Umanis) GalunganKamisMengunjungi kerabat, rekreasi, ngelawang barongPantai dan taman ramai keluarga lokal
Penampahan KuninganJumat, 9 hari setelahMenyiapkan banten dan nasi kuningPasar kembali ramai
KuninganSabtu, 10 hari setelahSembahyang sebelum tengah hari, banten tamiang dan endonganTutup pagi hari, normal kembali setelah tengah hari
Manis KuninganMingguIstirahat, waktu keluarga, sebagian desa mengadakan pesta adatRitme pulau kembali normal

Apa yang berubah bagi tamu, apa adanya

Bali tidak tutup saat Galungan seperti saat Nyepi. Penerbangan, kapal cepat, dan bandara beroperasi normal; hotel dan beach club tetap buka; kawasan ITDC Nusa Dua berjalan seperti biasa karena jadwal karyawannya sudah diatur bergiliran. Yang terasa adalah segala hal yang dikelola keluarga Bali: warung tutup seharian, laundry langganan libur, terapis pijat favorit Anda cuti, dan sopir lebih sulit dicari di pagi hari Galungan. Bank dan kantor pemerintah di Bali meliburkannya sebagai hari libur daerah, jadi urus perpanjangan visa dan tukar uang di hari lain.

Cara menyaksikan dengan sopan

Orang Bali murah hati terhadap tamu yang ingin melihat upacara, tetapi murah hati bukan berarti bebas masuk sesuka hati. Beberapa aturan sederhana membuat perbedaan besar. Kenakan kamen (kain) dan selendang untuk memasuki pura mana pun — sewa di gerbang sekitar Rp10.000–30.000, atau beli sendiri di pasar seharga Rp50.000–150.000 dan pakai sepanjang liburan. Jangan pernah berdiri lebih tinggi daripada pemangku atau sesajen; berdirilah di belakang atau di samping orang yang sembahyang, bukan di depannya. Jangan melangkahi banten di tanah, dan hormati canang sari di trotoar. Perempuan yang sedang datang bulan, menurut adat, dimohon tidak memasuki pura Minta izin sebelum memotret orang yang sedang berdoa, dan simpan kamera sepenuhnya saat pemangku membunyikan genta untuk doa utama. Panduan etika budaya Bali dan panduan pura kami membahasnya lebih rinci.

Cara terbaik menyaksikan Galungan adalah lewat orang, bukan lewat tiket. Tanyakan kepada host kami: staf villa biasanya senang bercerita tentang apa yang dilakukan keluarganya, dan dengan pemberitahuan lebih awal, sopir bisa mengajak Anda ke desanya pada Manis Galungan untuk menonton ngelawang — barong keliling yang diarak anak-anak dari gerbang ke gerbang untuk mengusir roh jahat, ditukar dengan sumbangan seikhlasnya. Siapkan uang pecahan Rp10.000–20.000; memberi itu lazim dan dihargai.

Ke mana dari Nusa Dua selama periode ini

Tidak perlu jauh-jauh. Desa Bualu dan Peminge, tepat di belakang kawasan Nusa Dua, memasang penjor yang indah, dan jalan turun ke Pantai Geger melewati pura-pura kecil yang persembahyangan paginya terlihat dari gang. Jalan utama Tanjung Benoa sendiri menjadi galeri penjor, cukup berjalan kaki sebentar dari villa. Untuk yang lebih megah, Ubud dan desa-desa di sekitarnya (1,5–2 jam) adalah pilihan klasik pada Manis Galungan; Desa Penglipuran di dekat Bangli (sekitar 2–2,5 jam) dipenuhi penjor dari ujung ke ujung dan terbuka untuk pengunjung dengan tiket masuk Rp50.000 per orang dewasa asing (WNI lebih murah; hanya tunai atau QRIS) — konfirmasi tarif terkini. Pertunjukan tari tetap berlangsung sepanjang periode, dan panduan tari Bali kami membantu Anda memahami apa yang sedang ditonton.

Mengatur liburan di sekitar Galungan

Jika siklusnya jatuh pada tanggal Anda, pesan sopir dan day trip sebelum tiba, jadwalkan hari spa dan makan malam istimewa pada hari Manis, bukan pada hari Galungan itu sendiri, dan beri tim villa waktu lebih longgar untuk pemesanan chef. Villa pribadi adalah basis yang pas untuk hari raya ini: cukup dekat untuk melihat kehidupan desa dengan berjalan kaki, tetapi Anda tidur di tempat yang upacaranya tidak dimulai pukul lima pagi. Hubungi tim Villa Soleil lewat WhatsApp di +62 877 7000 1535 (wa.me/6287770001535) dengan tanggal Anda; mereka akan memberi tahu apakah Galungan bertepatan, apa yang buka, dan apa yang bisa diatur. Pesan langsung juga memberi tarif lebih baik daripada OTA.

Bacaan terkait

Ditulis oleh tim Villa Soleil. Hubungi kami untuk merencanakan menginap di Nusa Dua.

Menginap saat Galungan? Tanyakan apa saja yang buka

Booking LangsungReservasi